Breaking News

Mengenal Sistem Kerja Shift, Rolling, dan Non-Shift di Perusahaan. Bedanya Apa Sih?

Mengenal Sistem Kerja Shift, Rolling, dan Non-Shift di Perusahaan. Bedanya Apa Sih?

Dalam dunia kerja, setiap perusahaan memiliki pengaturan jam kerja yang berbeda-beda. Ada karyawan yang bekerja dari pagi hingga sore, ada yang harus bergantian masuk pagi, siang, atau malam, dan ada pula yang jadwal kerjanya berubah secara berkala mengikuti kebutuhan operasional perusahaan.

Pengaturan tersebut dikenal dengan istilah sistem kerja shift, rolling, dan non-shift. Ketiganya sering ditemukan dalam lowongan kerja, terutama di bidang manufaktur, pergudangan, rumah sakit, perhotelan, retail, restoran, hingga layanan pelanggan.

Bagi pencari kerja, memahami sistem kerja ini penting sebelum melamar pekerjaan. Sebab, jadwal kerja tidak hanya memengaruhi waktu berangkat dan pulang, tetapi juga waktu istirahat, kehidupan pribadi, transportasi, hingga pola aktivitas sehari-hari.

Lantas, apa perbedaan sistem kerja shift, rolling, dan non-shift? Bagaimana contoh jadwalnya, dan apa saja yang perlu diperhatikan sebelum menerima pekerjaan dengan sistem tersebut? Berikut penjelasannya.

1. Apa Itu Sistem Kerja Shift?

Sistem kerja shift adalah pengaturan jam kerja dengan membagi waktu operasional perusahaan ke dalam beberapa giliran kerja. Setiap kelompok karyawan bekerja pada waktu yang telah ditentukan agar kegiatan perusahaan dapat berjalan sesuai kebutuhan.

Sistem ini umumnya digunakan oleh perusahaan yang perlu menjalankan kegiatan operasional dalam waktu panjang, bahkan selama 24 jam, seperti pabrik, rumah sakit, hotel, pusat distribusi, dan layanan keamanan.

Sebagai contoh, sebuah pabrik beroperasi selama 24 jam dan membagi waktu kerja menjadi tiga shift, yaitu pagi, sore, dan malam. Setiap karyawan akan mendapatkan jadwal untuk bekerja pada salah satu shift sesuai pengaturan perusahaan.

Contoh jadwal kerja 3 shift:

Shift Jam Kerja Contoh Aktivitas
Shift 1 (Pagi) 07.00–15.00 Memulai operasional, menjalankan produksi, atau melayani pelanggan pada pagi hingga siang hari.
Shift 2 (Sore) 15.00–23.00 Melanjutkan kegiatan operasional hingga malam.
Shift 3 (Malam) 23.00–07.00 Menjaga kegiatan operasional tetap berjalan pada malam hingga pagi.

Jadwal di atas hanya contoh. Jam kerja shift dapat berbeda pada setiap perusahaan, termasuk pengaturan istirahat, jumlah hari kerja, dan durasi setiap giliran.

Pada sistem shift, karyawan tidak selalu bekerja pada jam yang sama setiap hari. Namun, jadwalnya bisa tetap pada satu shift atau diatur bergantian, bergantung pada kebijakan perusahaan.

2. Apa Itu Sistem Kerja Rolling?

Sistem kerja rolling adalah pengaturan jadwal kerja ketika karyawan bergantian menjalani shift atau waktu kerja yang berbeda dalam periode tertentu. Istilah rolling biasanya digunakan untuk menggambarkan pergantian jadwal secara berkala, misalnya dari shift pagi ke shift sore, kemudian ke shift malam.

Dengan kata lain, rolling merupakan pola pergiliran jadwal. Di banyak perusahaan, rolling diterapkan sebagai bagian dari sistem kerja shift, bukan sebagai jenis jam kerja yang sepenuhnya terpisah.

Contohnya, karyawan bagian produksi dapat menjalani jadwal seperti berikut:

Periode Jadwal Jam Kerja
Minggu ke-1 Shift Pagi 07.00–15.00
Minggu ke-2 Shift Sore 15.00–23.00
Minggu ke-3 Shift Malam 23.00–07.00
Minggu ke-4 Kembali ke Shift Pagi 07.00–15.00

Dalam pola tersebut, karyawan berpindah dari satu shift ke shift lainnya sesuai periode yang ditetapkan perusahaan. Namun, tidak semua rolling dilakukan setiap minggu. Ada perusahaan yang mengganti jadwal setiap beberapa hari, dua minggu sekali, satu bulan sekali, atau mengikuti siklus tertentu.

Rolling juga dapat diterapkan pada kelompok karyawan yang berbeda. Misalnya, tim A bekerja pada shift pagi sementara tim B bekerja pada shift malam, kemudian keduanya bertukar jadwal sesuai rotasi yang telah direncanakan.

Hal yang perlu dipahami: rolling bukan berarti jadwal berubah secara mendadak setiap hari. Jadwal rolling yang baik seharusnya diinformasikan dengan jelas agar karyawan dapat mempersiapkan waktu istirahat, perjalanan, dan keperluan pribadi.

3. Apa Itu Sistem Kerja Non-Shift?

Sistem kerja non-shift adalah pengaturan kerja yang tidak menggunakan pergantian giliran kerja seperti pada sistem shift. Karyawan biasanya bekerja pada jadwal yang relatif tetap, umumnya pada jam kerja siang atau jam kantor.

Sistem ini banyak digunakan pada pekerjaan administrasi, keuangan, HR, pemasaran, perkantoran, dan sejumlah posisi lain yang tidak memerlukan operasional bergantian sepanjang hari.

Contoh jadwal kerja non-shift:

Hari Jam Kerja
Senin–Jumat 08.00–17.00
Sabtu–Minggu Libur

Jadwal tersebut merupakan contoh umum, bukan ketentuan yang berlaku untuk semua perusahaan. Ada perusahaan yang menerapkan lima hari kerja, enam hari kerja, jam masuk yang fleksibel, atau jadwal non-shift yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional.

Walaupun jam kerja non-shift cenderung tetap, bukan berarti karyawan tidak pernah bekerja di luar jam tersebut. Pada kondisi tertentu, karyawan mungkin diminta lembur atau menjalankan tugas tambahan sesuai ketentuan dan kesepakatan yang berlaku.

4. Perbedaan Sistem Kerja Shift, Rolling, dan Non-Shift

Ketiga istilah tersebut berkaitan dengan pengaturan waktu kerja, tetapi memiliki perbedaan dalam cara jadwal disusun dan dijalankan.

Aspek Shift Rolling Non-Shift
Pengertian Pembagian jam kerja menjadi beberapa giliran. Pergantian jadwal atau giliran kerja secara berkala. Jadwal kerja tanpa pergantian giliran shift.
Jam kerja Dapat pagi, sore, malam, atau giliran lainnya. Berubah mengikuti pola rotasi. Umumnya tetap pada jam kerja yang ditentukan.
Perubahan jadwal Bisa tetap atau bergantian, bergantung kebijakan. Berubah sesuai periode rotasi. Biasanya relatif tetap.
Operasional Dapat mendukung operasional panjang atau 24 jam. Digunakan ketika giliran kerja perlu dirotasi. Umumnya mengikuti jam kerja harian atau jam kantor.
Contoh bidang Pabrik, rumah sakit, hotel, dan layanan pelanggan. Produksi, gudang, dan operasional yang menerapkan rotasi. Administrasi, HR, keuangan, dan pekerjaan kantor.
Penyesuaian aktivitas Menyesuaikan aktivitas dengan giliran yang dijalani. Perlu menyesuaikan aktivitas setiap pergantian jadwal. Lebih mudah membuat rutinitas berdasarkan jam tetap.

Perbedaan yang paling penting adalah shift menjelaskan pembagian giliran kerja, rolling menjelaskan pergantian giliran tersebut, sedangkan non-shift merupakan jadwal kerja tanpa pergantian giliran shift.

Karena itu, pekerjaan rolling pada umumnya juga termasuk pekerjaan shift. Namun, pekerjaan shift belum tentu rolling karena karyawan bisa saja selalu bekerja pada shift yang sama.

5. Contoh Pekerjaan yang Menggunakan Sistem Shift, Rolling, dan Non-Shift

Sistem kerja yang digunakan perusahaan biasanya disesuaikan dengan kegiatan operasional, kebutuhan pelanggan, dan karakteristik posisi pekerjaan.

a. Pekerjaan dengan sistem shift

  • Operator produksi: menjalankan proses produksi sesuai giliran agar kegiatan pabrik tetap berjalan.
  • Petugas rumah sakit: memberikan pelayanan kepada pasien sesuai pembagian jadwal kerja.
  • Customer service 24 jam: menangani pertanyaan dan keluhan pelanggan pada waktu layanan yang berbeda.
  • Security: menjaga keamanan lokasi berdasarkan pembagian waktu penjagaan.
  • Hotel front office: melayani tamu yang datang, membutuhkan bantuan, atau melakukan proses check-in dan check-out pada berbagai waktu.

b. Pekerjaan dengan sistem rolling

  • Operator manufaktur: bergantian menjalani shift pagi, sore, atau malam berdasarkan rotasi.
  • Staff warehouse: berganti giliran untuk mendukung penerimaan, penyimpanan, dan pengiriman barang.
  • Petugas operasional: menjalani rotasi jadwal sesuai kebutuhan layanan.
  • Petugas layanan pelanggan: berpindah jadwal secara berkala untuk memenuhi kebutuhan jam layanan.

c. Pekerjaan dengan sistem non-shift

  • Staff administrasi: mengelola dokumen, data, dan laporan sesuai jam kantor.
  • HR atau personalia: mengurus administrasi karyawan, rekrutmen, dan kebutuhan sumber daya manusia.
  • Staff keuangan: menangani pencatatan transaksi, laporan, dan administrasi keuangan.
  • Staff marketing kantor: merencanakan kegiatan pemasaran, mengelola materi promosi, dan menyusun laporan.
  • Staff purchasing: mengelola permintaan pembelian, komunikasi dengan pemasok, dan dokumen pengadaan.

Daftar tersebut merupakan contoh yang umum dijumpai. Posisi yang sama bisa memiliki sistem kerja berbeda pada perusahaan lain. Misalnya, staf administrasi di kantor pusat mungkin bekerja non-shift, sedangkan staf administrasi operasional di fasilitas yang beroperasi 24 jam dapat dijadwalkan dalam shift.

6. Kelebihan dan Tantangan Setiap Sistem Kerja

Setiap sistem kerja memiliki karakteristik yang dapat sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan kondisi karyawan tertentu. Tidak ada satu sistem yang otomatis cocok untuk semua orang.

a. Sistem kerja shift

Kelebihan:

  • Memungkinkan perusahaan menjalankan operasional dalam waktu yang lebih panjang.
  • Jadwal kerja dan giliran biasanya dapat direncanakan berdasarkan kebutuhan operasional.
  • Karyawan dapat memiliki waktu luang pada jam tertentu di luar jam kerja, tergantung jadwal.

Tantangan:

  • Jam kerja sore atau malam dapat mengubah pola tidur dan aktivitas sehari-hari.
  • Karyawan perlu menyesuaikan waktu bersama keluarga atau teman dengan jadwal kerja.
  • Perjalanan menuju atau pulang dari tempat kerja dapat lebih sulit pada jam tertentu.

b. Sistem kerja rolling

Kelebihan:

  • Perusahaan dapat membagi kebutuhan operasional ke beberapa kelompok kerja secara bergiliran.
  • Rotasi dapat membantu pembagian giliran kerja, termasuk giliran malam, sesuai aturan perusahaan.
  • Karyawan berkesempatan mengalami jenis pekerjaan atau kondisi operasional yang berbeda jika rotasi melibatkan tugas terkait.

Tantangan:

  • Perubahan jam kerja memerlukan penyesuaian rutinitas dan waktu istirahat.
  • Perencanaan kegiatan pribadi dapat menjadi lebih rumit jika jadwal berubah terlalu sering.
  • Perpindahan shift yang tidak memberikan waktu pemulihan memadai dapat mengganggu istirahat dan kebugaran.

c. Sistem kerja non-shift

Kelebihan:

  • Jam kerja yang relatif tetap memudahkan karyawan mengatur rutinitas harian.
  • Lebih mudah merencanakan kegiatan pribadi di luar jam kerja yang ditentukan.
  • Koordinasi dengan pihak lain yang juga bekerja pada jam kantor cenderung lebih mudah.

Tantangan:

  • Waktu kerja yang relatif tetap belum tentu fleksibel bagi semua kebutuhan pribadi.
  • Pada periode sibuk, pekerjaan dapat membutuhkan lembur atau penyelesaian tugas tambahan sesuai ketentuan.
  • Posisi yang mendukung operasional di luar jam kantor mungkin tetap membutuhkan koordinasi atau kesiapan tertentu.

7. Apakah Kerja Shift dan Rolling Mendapatkan Tunjangan atau Upah Tambahan?

Karyawan yang bekerja dengan sistem shift atau rolling tidak otomatis menerima tunjangan shift hanya karena jadwalnya bergantian. Pemberian tunjangan tertentu dapat bergantung pada kebijakan perusahaan, perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama yang berlaku.

Hal yang perlu dibedakan adalah tunjangan shift dan upah lembur. Tunjangan shift merupakan fasilitas atau pembayaran tambahan yang mungkin diberikan perusahaan berdasarkan ketentuan internal atau kesepakatan. Sementara itu, upah lembur berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan melebihi waktu kerja yang diatur dan harus mengikuti ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.

Di Indonesia, ketentuan waktu kerja dan lembur diatur dalam peraturan ketenagakerjaan, termasuk Undang-Undang Ketenagakerjaan sebagaimana telah diubah dan peraturan pelaksananya. Secara umum, waktu kerja normal adalah 7 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk pola 6 hari kerja, atau 8 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk pola 5 hari kerja, dengan pengecualian tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.

Ketentuan waktu kerja pada sektor atau jenis pekerjaan tertentu dapat memiliki pengaturan khusus. Oleh sebab itu, karyawan sebaiknya memeriksa perjanjian kerja dan aturan perusahaan untuk memahami jam kerja, waktu istirahat, hari libur, ketentuan lembur, serta tunjangan yang diberikan.

8. Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menerima Pekerjaan dengan Sistem Shift atau Rolling

Sebelum menerima tawaran kerja, jangan hanya memperhatikan nama posisi dan besaran gaji. Pastikan juga memahami sistem kerja yang akan dijalani, terutama jika pekerjaan menggunakan shift atau rolling.

  • Pastikan jadwal kerja: tanyakan jam masuk, jam pulang, jumlah hari kerja, dan pola rotasi yang diterapkan.
  • Ketahui waktu istirahat: pahami kapan waktu istirahat diberikan dan bagaimana pengaturannya selama shift.
  • Tanyakan jadwal libur: pastikan bagaimana hari libur mingguan dan hari libur nasional diatur sesuai ketentuan yang berlaku.
  • Periksa ketentuan lembur: pahami kapan lembur dapat diberlakukan, bagaimana persetujuannya, dan bagaimana upah lembur dihitung.
  • Ketahui tunjangan: tanyakan apakah perusahaan memberikan tunjangan shift, uang makan, transportasi, atau fasilitas lainnya.
  • Pertimbangkan akses transportasi: periksa ketersediaan kendaraan umum atau pilihan transportasi jika jadwal kerja berakhir larut malam atau dimulai sangat pagi.
  • Pahami kemungkinan perubahan jadwal: tanyakan seberapa jauh sebelumnya jadwal rolling diinformasikan dan bagaimana perubahan mendadak ditangani.

Informasi tersebut dapat membantu pencari kerja menilai apakah pengaturan waktu kerja sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka menjalani pekerjaan dalam jangka panjang.

9. Tips Menjaga Kondisi Tubuh saat Bekerja dengan Sistem Shift atau Rolling

Bekerja pada waktu yang berubah-ubah membutuhkan pengaturan aktivitas dan istirahat yang lebih terencana. Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu karyawan menyesuaikan diri:

  • Atur waktu tidur: usahakan memperoleh waktu tidur yang cukup dan menciptakan suasana istirahat yang nyaman, termasuk ketika harus tidur pada siang hari.
  • Jaga pola makan: rencanakan waktu makan dan siapkan makanan yang cukup bergizi agar tidak bergantung pada makanan seadanya saat bekerja.
  • Manfaatkan waktu istirahat: gunakan jeda kerja untuk beristirahat dan memulihkan konsentrasi sesuai aturan tempat kerja.
  • Rencanakan perpindahan shift: gunakan jadwal rotasi yang telah diinformasikan untuk menyesuaikan waktu tidur, perjalanan, dan kegiatan pribadi.
  • Perhatikan keselamatan perjalanan: pastikan kondisi tubuh cukup siap sebelum berkendara, terutama setelah bekerja malam atau ketika merasa mengantuk.
  • Komunikasikan kendala: sampaikan kepada atasan atau bagian HR jika jadwal kerja menimbulkan kendala yang berpengaruh terhadap keselamatan atau pelaksanaan tugas.

Perusahaan juga memiliki peran dalam menyusun jadwal yang memperhatikan waktu istirahat, keselamatan, dan ketentuan kerja. Pengelolaan shift yang baik tidak hanya memperhatikan kelancaran operasional, tetapi juga kondisi karyawan.

10. FAQ Seputar Sistem Kerja Shift, Rolling, dan Non-Shift

1. Apa perbedaan shift dan rolling?

Shift adalah pembagian waktu kerja menjadi beberapa giliran, seperti pagi, sore, dan malam. Rolling adalah pergantian giliran atau jadwal tersebut secara berkala. Jadi, rolling umumnya merupakan pola yang diterapkan dalam sistem kerja shift.

2. Apakah kerja rolling sama dengan kerja shift?

Tidak sepenuhnya sama. Shift mengacu pada giliran kerja, sedangkan rolling mengacu pada rotasi jadwal. Karyawan yang bekerja shift dapat memiliki jadwal tetap pada satu giliran atau menjalani rolling.

3. Apakah kerja non-shift selalu masuk pagi dan pulang sore?

Tidak selalu. Non-shift berarti tidak menggunakan pergantian giliran shift. Jam kerjanya dapat berupa jam kantor yang tetap, jadwal fleksibel, atau pengaturan lain sesuai kebijakan perusahaan dan ketentuan yang berlaku.

4. Apakah karyawan shift pasti bekerja pada malam hari?

Tidak. Ada karyawan yang selalu mendapatkan shift pagi atau sore. Kewajiban menjalani shift malam bergantung pada jadwal dan kebijakan perusahaan.

5. Apakah jadwal rolling bisa berubah setiap hari?

Bisa saja, jika perusahaan menerapkan pola rotasi harian. Namun, rolling juga dapat dilakukan setiap beberapa hari, mingguan, dua mingguan, atau bulanan. Pola yang diterapkan sebaiknya diinformasikan dengan jelas kepada karyawan.

6. Apakah kerja shift mendapatkan uang lembur?

Kerja shift tidak otomatis berarti lembur. Upah lembur berkaitan dengan pekerjaan yang memenuhi ketentuan lembur menurut peraturan yang berlaku. Jika karyawan bekerja melebihi waktu kerja yang ditentukan, pengaturan lembur perlu mengikuti ketentuan yang berlaku.

7. Apakah kerja shift memiliki hari libur?

Ya, karyawan yang bekerja dengan sistem shift tetap memiliki hak istirahat dan hari libur sesuai ketentuan ketenagakerjaan serta pengaturan jadwal yang berlaku. Hari liburnya dapat jatuh pada hari kerja biasa, bergantung pada jadwal operasional perusahaan.

8. Apakah pekerjaan administrasi bisa menggunakan sistem shift?

Bisa. Pekerjaan administrasi di kantor yang beroperasi selama 24 jam, seperti fasilitas kesehatan, pusat distribusi, atau layanan operasional tertentu, dapat menerapkan sistem shift. Sistem kerja ditentukan oleh kebutuhan posisi dan perusahaan.

9. Apakah sistem kerja rolling selalu berganti dari pagi, sore, lalu malam?

Tidak selalu. Urutan dan frekuensi pergantian shift bergantung pada pola rotasi perusahaan. Ada yang menggunakan urutan pagi-sore-malam, ada pula yang menerapkan pola lain sesuai kebutuhan operasional dan pengaturan waktu istirahat.

Kesimpulan

Sistem kerja shift, rolling, dan non-shift memiliki perbedaan utama pada cara jam kerja dibagi dan dijadwalkan. Shift merupakan pembagian waktu kerja menjadi beberapa giliran, rolling adalah pergantian giliran secara berkala, sedangkan non-shift merupakan sistem kerja tanpa rotasi giliran shift.

Sistem shift dan rolling banyak diterapkan pada perusahaan yang membutuhkan kegiatan operasional dalam waktu panjang, seperti manufaktur, rumah sakit, pergudangan, perhotelan, dan layanan pelanggan. Sementara itu, non-shift umum digunakan pada pekerjaan perkantoran yang memiliki jam kerja relatif tetap.

Bagi pencari kerja, memahami sistem kerja sebelum melamar atau menerima tawaran pekerjaan dapat membantu mempersiapkan diri terhadap jadwal, waktu istirahat, transportasi, dan aktivitas sehari-hari. Pastikan untuk menanyakan pola kerja serta hak dan ketentuan yang berlaku agar tidak terjadi kesalahpahaman setelah mulai bekerja.

Referensi:

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close